Jumat, 09 Januari 2009

BUY BACK SAHAM BAKRIE GROUP

Pada tanggal 6 Oktober 2008 keenam saham anak-anak usaha Grup Bakrie mengalami penurunan tajam hingga melebihi ambang batas (auto rejection), yaitu pada level 1.619,72. Keenam saham tersebut diantaranya PT. Bakrie & Brothers 40,8% menjadi Rp. 145, PT Bumi Resources (BUMI) 36% ke Rp. 2.175, Bakrie Telecom (BTEL) 24,5% menjadi Rp. 185, Bakrie Land Development (ELTY) 34,8% menjadi Rp.150, PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) 37% ke Rp. 460, dan saham PT Energi Mega Persada (ENRG) 34% menjadi Rp. 350.

Penurunan keenam saham perusahaan tersebut dibanding harga pada penutupan perdagangan 26 September terkait dengan libur hari raya Idul Fitri, akhirnya pada tanggal 7 Oktober 2008 BEI mensuspensi keenam saham tersebut.

Berdasarkan sumber pelaku pasar modal, kejatuhan saham secara serempak pada anak usaha Grup Bakrie itu dikarenakan oleh keraguan investor atas kemampuan Grup bakrie dalam mengeksekusi Repo yang jatuh tempo pada Senin, 6 Oktober 2008. Terkait dengan kondisi likuiditas di pasar keuangan global saat ini sangat minim.

Kondisi tersebut dapat membuat kelompok usaha ini akan sulit mencari pinjaman baru untuk menutup utang jangka pendek yang sudah menumpuk. Mitra Repo dalam hal ini terpaksa harus melepas saham-saham grup yang saat jatuh tempo. Apalagi, pemilik Grup bakrie diduga tidak memenuhi kewajiban menambah dana (tpping up) pada mitra repo terkait terus turunya harga saham anak-anak usaha Grup bakrie di pasar.

Sementara hal ini disinyalir oleh manajemen BNBR karena menurut Erry Firmansyah, selaku Direktur Utama BEI usai pertemuan bersama manajemen BNBR, dikatakan bahwa Repo masih berjalan dan tidak ada Repo yang gagal dieksekusi saat jatuh tempo. Namun pernyataan itu hanya ditujukan pada repo yang dilakukan oleh founder BNBR. Sementara sisa saham dikontrol Grup Bakrie bila ikut digadaikan pemegang saham lain. Pihak Bakrie tidak tahu menahu kalau tidak dieksekusi. Seperti BUMI, grup Bakrie hanya memilki 35% selebihnya pemegang saham lain.

Menurut Direktur Keuangan BNBR, yuanita Rohali, pihaknya telah memmbayar kembali pokok utang senilai US$ 200 juta, dari total uang jangka pendek BNBR sebesar US$ 1,2 milliar. Sedangkan sisanya belum terbayar sebesar US$ 1 millyar akan jatuh tempo pada April 2009. Sebagaimana diketahui untuk memperoleh pinjaman sebesar 1,2 milliar itu, Grup Bakrie telah menjaminkan saham pada anak-anak usahanya dengan nilai asset sebesar US6 6 milliar.

Untuk menutup sisa uang itu, dlam paparan publik tanggal 12 Oktober lalu, manajemen BNBR memastikan akan menjual sebagian sahamnya pada anak-anak usahanya yakni BUMI, UNSP, ELTY, ENRG, dan BTEL. Sejumlah saham yang dilepas dalam aksi korporasi yang dinamai “Rasionalisasi Portofolio” yang berbeda pada masing-masing anak usaha, rata-rata 45 hingga 10%. Kendati demikian BNBR tetap menjadi pengendali anak-anak usah itu.

Selain Rasionalisasi Portofolio, Grup Bakrie juga akan menambah jumlah buy back saham BUMI sebesar 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh.

Terkait dengan buy back saham di bursa, maka pemerintah melalui Bapepam-LK telah memberikan kelonggaran bagi emiten yang ingin buy back sahamnya dibursa tanpa persetujuan RUPS. Kebijakan tersebut dilakukan demi mencegah kejatuhan indeks lebih dalam akibat krisis finansial global. Namun, kendati dilonggarkan, emiten tetap wajib menyampaikan keterbukaan informasi terkait buy back itu.

Disamping itu, menurut Ketua Bapepam-LK, Fuad Rahmany, kelonggaran buy back juga termasuk penambahan jumlah maksimal saham yang boleh dibeli kembali dari 10% menjadi 20%, jika bursa turun signifikan dan saat bursa disuspensi. Besaran saham buy back juga diubah dari maksimal 25% dari volume perdagangan harian menjadi 100%. Peraturan baru tersebut secara efektif mulai berlaku per 10 september 2008.

Dengan adanya kelonggaran aturan itu, membuat grup Bakrie tak hanya buy back saham BUMI, tapi akan mendorong anak-anak usaha yang lain melakukan hal serupa.



Sumber: Investor

0 komentar: