
2009 hingga hari ini kita sudah melewati sekilas hari-hari pergantian tahun ini. Terutama terkait dengan PHK. Bukan sesuatu hal baru lagi. Meski kita belum benar-benar merasakan atau dampak nya belum menyeluruh. Tapi terkait seperti apa yang telah diungkapkan Menteri Perekonomian Indonesia Ibu Sri Mulyani pada awal tahun lalu di metro TV dengan topik “Ekonomi di mata Sri Mulyani th 2009 di metro economic challanges. Menurut beliau yang paling dikhawatirkan 2009 adalah PHK. Hal ini sudah sangat jelas. Amerika dan beberapa negara Eropa sudah mulai memberlakukan kebijakan ini beberapa bulan setelah negara adidaya Amerika itu terkena krisis keuangan global dan menjadi biang kerok utama dari krisis keuangan global ini. Untuk melihat sektor mana yang yang paling terpengaruh beliau mengatakan: “Makanya sektor mana yang akan kena kita lihat saja. Kita lihat saja di AS sektor apa yg kena. Nagh dampak inilah yang akan dilihat dan dijadikan suatu pertimbangan.”
Memang jika dilihat harga BBM, angkot, sembako sudah turun. Tapi, ini hanya awal saja mengingat Indonesia belum seberapa mendapat dampak nya selain didunia pasar modal. Untuk itu, beliau menambahkan: “Waspada tetap masih perlu, Tapi tidak usah terlalu “under estimasi”. Jelas krisis tahun 1998 berbeda dengan krisis finansial global saat ini. Kita tahu sendiri beberapa sektor perekonomian di Indonesia masih lemah. Ambil sikap jangan dogmatis atau ultra diologis me-manage ekonomi ada strateginya.”
Lalu terkait dengan krisis keuangan global ini, upaya apakah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini dan kedepannya untuk menantisipasi krisis keuangan global ini. “Pemerintah membuat safety net yang lebih luas termasuk intervensi perusahaan yang memberatkan perusahaan itu. Jangan sampai karyawan di PHK kan, cukup lah dirumahkan saja, karena untuk melakukan suatu proses perekrutan karyawan itu sungguh tidak mudah. Anggarannya cukup tinggi. Untuk itu, pemerintah melakukan monitoring per komoditi. Program pemerintah akan tetap fokus sesuai yag diharapkan” kata beliau.
Disamping itu, Bank Indonesia sebagi bank sentral dan pelaksana kebijakan perekonomian Indonesia, Bi akan berupaya semaksimal mungkin setelah mendapat kebijakan dari pemerintah. Upayanya terkait untuk memperbaiki birokrasi, sangatlah penting dilakukan misalnya untuk beacukai, implementasi infrastruktur. Beliau menambahkan: “Dari sisi anggaran Bi hampir melakukan semuanya. Pada tahun depan(2009) pemerintah akan menyediakan anggaran 72 trilliun berhubungan dengan infrastruktur plus anggaran di daerah sehingga mencapai 100 trilliun.”
Dengan adanya upaya-upaya itu dari pemerintah, khususnya semoga benar-benar dapat terlaksana dengan baik. Jangan sampai program yang tersusun dengan baik itu, malah ke depannya amburadul alias tidak dapat terlaksana dengan baik. Atau malah menyengsarakan rakyat. Disamping itu, kita juga tidak bergantung dari kebijakan dan bantuan dari pemerintah sepenuhnya. Sebelum dampak krisis keuangan global ini berlanjut, alangkah baiknya jika kita juga turut berpartisipasi. Apapun itu, minimal untuk kebaikan diri Anda sendiri, tapi alangkah baiknya untuk orang lain juga, bahkan untuk negara kita tercinta kita ini.
Bukan sebuah hal baru lagi jika beberapa perusahaan di Indonesia sudah membuat kebijakan untuk mem-PHK-kan karyawannya. Hal ini sudah mulai kelihatan sejak akhir desember 2008 kemaren. Beberapa perusahaan di luar Jawa. Sedangkan baru-baru ini sudah diberitakan di berbagai media. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat, Dedy Wijaya, mengisyaratkan, di tahun 2009, sekitar 15.000 pekerja berpotensi di-PHK apabila krisis masih berkepanjangan. "Saat ini, 15.000 tenaga kerja tersebut telah dirumahkan," ungkap Dedi di Bandung, Kamis (8/1). (Sumber: kompas.com).
Sementara itu, kasus PHK ini tidak menyangkut karyawan yang bekerja di Indonesia saja. Tapi untuk karyawan yang bekerja di luarnegeri, seperti TKI. Bahkan kemungkinan akan terkena dampaknya juga. Sapto Priyono, staf administrasi PT Dian Yogya Perdana, Rabu (14/1) mengatakan, sejumlah perusahaan kliennya di Malaysia sudah menginformasikan rencana PHK selama bulan Januari-Maret. "Memang jumlah pastinya belum ada, tetapi kemungkinan berkisar 1.200 orang," katanya. (kompas.com).
Untuk itu, perlu dilakukan antisipasi sejak dini yang bisa kita lakukan terkait dengan dampak krisis keuangan global ini. Banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah mencoba untuk berwirausaha. Mencoba untuk melihat peluang usaha yang kemungkinan dapat bermanfaat meskipun adanya krisis keuangan global. Atau paling tidak membantu Anda ketika dampak krisis mulai ada. Disamping itu mencoba mencari peluang investasi lain selain pasar modal jika Anda memang segan untuk melakukan investasi dibidang itu. Misalnya properti, yang mungkin harganya saat ini turun. Tapi siapa tahu juga kedepannya bisa Anda jadikan sebuah investasi yang berharga.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.
Memang jika dilihat harga BBM, angkot, sembako sudah turun. Tapi, ini hanya awal saja mengingat Indonesia belum seberapa mendapat dampak nya selain didunia pasar modal. Untuk itu, beliau menambahkan: “Waspada tetap masih perlu, Tapi tidak usah terlalu “under estimasi”. Jelas krisis tahun 1998 berbeda dengan krisis finansial global saat ini. Kita tahu sendiri beberapa sektor perekonomian di Indonesia masih lemah. Ambil sikap jangan dogmatis atau ultra diologis me-manage ekonomi ada strateginya.”
Lalu terkait dengan krisis keuangan global ini, upaya apakah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini dan kedepannya untuk menantisipasi krisis keuangan global ini. “Pemerintah membuat safety net yang lebih luas termasuk intervensi perusahaan yang memberatkan perusahaan itu. Jangan sampai karyawan di PHK kan, cukup lah dirumahkan saja, karena untuk melakukan suatu proses perekrutan karyawan itu sungguh tidak mudah. Anggarannya cukup tinggi. Untuk itu, pemerintah melakukan monitoring per komoditi. Program pemerintah akan tetap fokus sesuai yag diharapkan” kata beliau.
Disamping itu, Bank Indonesia sebagi bank sentral dan pelaksana kebijakan perekonomian Indonesia, Bi akan berupaya semaksimal mungkin setelah mendapat kebijakan dari pemerintah. Upayanya terkait untuk memperbaiki birokrasi, sangatlah penting dilakukan misalnya untuk beacukai, implementasi infrastruktur. Beliau menambahkan: “Dari sisi anggaran Bi hampir melakukan semuanya. Pada tahun depan(2009) pemerintah akan menyediakan anggaran 72 trilliun berhubungan dengan infrastruktur plus anggaran di daerah sehingga mencapai 100 trilliun.”
Dengan adanya upaya-upaya itu dari pemerintah, khususnya semoga benar-benar dapat terlaksana dengan baik. Jangan sampai program yang tersusun dengan baik itu, malah ke depannya amburadul alias tidak dapat terlaksana dengan baik. Atau malah menyengsarakan rakyat. Disamping itu, kita juga tidak bergantung dari kebijakan dan bantuan dari pemerintah sepenuhnya. Sebelum dampak krisis keuangan global ini berlanjut, alangkah baiknya jika kita juga turut berpartisipasi. Apapun itu, minimal untuk kebaikan diri Anda sendiri, tapi alangkah baiknya untuk orang lain juga, bahkan untuk negara kita tercinta kita ini.
Bukan sebuah hal baru lagi jika beberapa perusahaan di Indonesia sudah membuat kebijakan untuk mem-PHK-kan karyawannya. Hal ini sudah mulai kelihatan sejak akhir desember 2008 kemaren. Beberapa perusahaan di luar Jawa. Sedangkan baru-baru ini sudah diberitakan di berbagai media. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat, Dedy Wijaya, mengisyaratkan, di tahun 2009, sekitar 15.000 pekerja berpotensi di-PHK apabila krisis masih berkepanjangan. "Saat ini, 15.000 tenaga kerja tersebut telah dirumahkan," ungkap Dedi di Bandung, Kamis (8/1). (Sumber: kompas.com).
Sementara itu, kasus PHK ini tidak menyangkut karyawan yang bekerja di Indonesia saja. Tapi untuk karyawan yang bekerja di luarnegeri, seperti TKI. Bahkan kemungkinan akan terkena dampaknya juga. Sapto Priyono, staf administrasi PT Dian Yogya Perdana, Rabu (14/1) mengatakan, sejumlah perusahaan kliennya di Malaysia sudah menginformasikan rencana PHK selama bulan Januari-Maret. "Memang jumlah pastinya belum ada, tetapi kemungkinan berkisar 1.200 orang," katanya. (kompas.com).
Untuk itu, perlu dilakukan antisipasi sejak dini yang bisa kita lakukan terkait dengan dampak krisis keuangan global ini. Banyak cara yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah mencoba untuk berwirausaha. Mencoba untuk melihat peluang usaha yang kemungkinan dapat bermanfaat meskipun adanya krisis keuangan global. Atau paling tidak membantu Anda ketika dampak krisis mulai ada. Disamping itu mencoba mencari peluang investasi lain selain pasar modal jika Anda memang segan untuk melakukan investasi dibidang itu. Misalnya properti, yang mungkin harganya saat ini turun. Tapi siapa tahu juga kedepannya bisa Anda jadikan sebuah investasi yang berharga.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.
media2bfree.blogspot.com


0 komentar:
Posting Komentar