Akirnya sempat juga menulis tentang vitamin. Dari pengalaman beberapa hari ini musim yang tidak menentu membuat badan cepat capek sehingga menjadi salah satu kendala dalam beraktifitas. Setelah periksa ke dokter memang harus minum vitamin sehari sekali biar tidak cepat lelah. Mhnmnnm, setelah aku minum tiap menjelang tidur malam. Well, bener-bener ada manfaatnya banget. Di pagi hari dengan menjalankan aktifitas hingga sore dan kadang sampai malam pun masih oK. badan juga tidak cepat capek. Tentunya diselingi ddengan istirahat yang cukup.Kenapa vitamin C?
Dibanding jenis vitamin lain, vitamin C hingga sekarang mungkin merupakan jenis vitamin yang paling populer di masyarakat awam. Meski sama pentingnya dengan yang lain, memang banyak orang yang menganggap khasiat vitamin C jauh melebihi kebutuhan vitamin lain, dan hal ini seringkali dikaitkan dengan peningkatan daya tahan tubuh.
Malah, serangkaian penelitian yang dilakukan para ahli menemukan fungsi lain yang jauh lebih menjanjikan sebagai suatu antioksidan yang mampu mencegah penyakit-penyakit lain yang lebih serius termasuk kanker dan berbagai penyakit degeneratif lainnya.
Hal ini yang mungkin mendasari pengetahuan umum masyarakat tentang perlunya mengkonsumsi vitamin C, dan tak bisa dipungkiri juga, promosi-promosi dari pihak produsen. Dan terkait dengan tingginya kesadaran self medication dengan kemudahan pengaksesan informasi di masa sekarang, salah satu kegunaan vitamin C, dalam dosis yang dianggap dosis tinggi (1000 mg/hari) secara praktis yang sering muncul adalah untuk mencegah flu dalam kemampuannya meningkatkan daya tahan tubuh.
Vitamin, apapun jenisnya, memang merupakan kebutuhan zat gizi yang harus terpenuhi, bukan hanya sekedar dari suplemen namun juga dari bahan-bahan alami, namun perlu juga mempertimbangkan beberapa riset berlawanan untuk mengetahui pasti apa saja kekurangan dan kelebihan zat-zat gizi yang kita pilih untuk menjadi konsumsi sehari-hari, agar tak terjebak dalam mitos-mitos yang menyesatkan.
Dalam penemuan risetnya, Pauling menganjurkan untuk mengkonsumsi vitamin C 1000 mg/hari dalam fungsi-nya dalam mencegah flu, yang padanannya, meski tak sepenuhnya tepat, disebutnya sebagai common cold. Para ahli kemudian menggolongkan dosis ini sebagai dosis tinggi karena dibandingkan dengan segelas jus jeruk peras yang menghasilkan 60 mg vitamin C. Ia juga menyebutkan selain persentase 45% kegunaannya dalam mencegah selesma dan flu tersebut, vitamin C dapat mencegah serta memperpanjang hidup penderita-penderita kanker.
Pertimbangan lain yang disebutkan Pauling tentang kebutuhan ini adalah karena tubuh sama sekali tidak menghasilkan vitamin C sendiri dan tidak juga menyimpannya, karena itu konsumsinya sangat dibutuhkan dalam diet sehari-hari. Toksisitasnya juga tergolong ringan karena sifat-sifat tadi, dan yang sering dipublikasikan adalah gangguan pencernaan dan diare pada penggunaan lebih tinggi dari 1000 mg tersebut. Ada sebagian penelitian yang bergerak lebih jauh membahas bahaya lanjut kelebihan vitamin C, dan memang, hingga sekarang masih menjadi pertentangan bagi sebagian ahli yang lain.
Begitupun, anjuran untuk mengkonsumsi 1000 mg/hari vitamin C ini kemudian berkembang menjadi tudingan tentang sebuah quackery, yakni promosi dari suatu sistem produk yang dianggap berlebihan. Setelah publisitas tersebut, hingga sekarang, banyak ahli yang meneliti fungsi ini dan hasilnya memang beragam, namun tentu ada penjelasan tersendiri dari masing-masing riset tersebut.
Konsumen, memang pada kenyataannya seringkali terombangambing di tengah pertentangan pembuktian dari riset-riset ilmiah ini, dan karena itu perlu memahami betul seluk-beluk yang ada dibaliknya dengan pertimbangan matang.
Sebuah publikasi lain dari kumpulan 30 studi yang melibatkan lebih dari 11.000 peserta penelitian di Australia dan Finlandia menemukan bahwa vitamin C dosis tinggi tersebut tak terbukti secara signifikan bisa mencegah flu, namun cukup bermanfaat bagi penderita yang berada dalam kelompok gizi kurang dan adanya stress fisik akibat aktifitas yang lebih dari orang biasa.
Di luar banyaknya pro dan kontra termasuk tudingan-tudingan terhadap publisitas Pauling sebagai pionir riset tentang kegunaan vitamin C ini, vitamin tetaplah sebuah kebutuhan zat gizi yang harus dipenuhi, dan sebuah riset tetap juga merupakan sebuah studi yang memiliki kekurangan dan kelebihan dari tiap-tiap hasilnya. Toh, ada banyak penjelasan yang paling tidak bisa menjadi dasar untuk pengetahuan orang-orang yang menerima dan menyikapi publikasi tersebut.
Teori-teori tentang kemungkinan hasil positif dan negative riset-riset ini juga cukup banyak, diantaranya teori yang menyebutkan kesamaan struktur vitamin C dengan gula sehingga seringkali berlawanan dalam reseptor sel untuk
penyerapannya di dalam tubuh, dimana semakin tinggi gula yang dikonsumsi semakin rendah pula penyerapan vitamin C ke dalam sel. Proses produksi vitamin C dalam bentuk suplemen pun tak semuanya sama persis, dan masih banyak lagi teori yang bisa menjelaskan bias-bias dari tiap riset yang dilakukan.
Apapun alasannya, vitamin C memang memiliki fungsi tersendiri dalam pertumbuhan/perbaikan sel serta jaringan, dan juga fungsi antioksidannya yang sudah dianggap cukup signifikan. Yang menjadi masalah hanyalah tinggi rendah dosis, serta penyesuaian kebutuhannya, dimana dosis 1000 mg/hari tak selalu harus dijadikan patokan resmi, dan sumber dari bahan-bahan alami tentu akan lebih baik daripada sebuah produk suplemen.
Malah, serangkaian penelitian yang dilakukan para ahli menemukan fungsi lain yang jauh lebih menjanjikan sebagai suatu antioksidan yang mampu mencegah penyakit-penyakit lain yang lebih serius termasuk kanker dan berbagai penyakit degeneratif lainnya.
Hal ini yang mungkin mendasari pengetahuan umum masyarakat tentang perlunya mengkonsumsi vitamin C, dan tak bisa dipungkiri juga, promosi-promosi dari pihak produsen. Dan terkait dengan tingginya kesadaran self medication dengan kemudahan pengaksesan informasi di masa sekarang, salah satu kegunaan vitamin C, dalam dosis yang dianggap dosis tinggi (1000 mg/hari) secara praktis yang sering muncul adalah untuk mencegah flu dalam kemampuannya meningkatkan daya tahan tubuh.
Vitamin, apapun jenisnya, memang merupakan kebutuhan zat gizi yang harus terpenuhi, bukan hanya sekedar dari suplemen namun juga dari bahan-bahan alami, namun perlu juga mempertimbangkan beberapa riset berlawanan untuk mengetahui pasti apa saja kekurangan dan kelebihan zat-zat gizi yang kita pilih untuk menjadi konsumsi sehari-hari, agar tak terjebak dalam mitos-mitos yang menyesatkan.
Vitamin C Dosis Tinggi dan Pencegahan FluJenis vitamin yang larut dalam air yang memiliki fungsi utama dalam pertumbuhan jaringan termasuk yang sekarang berkembang sangat populer, untuk kesehatan kulit, dan juga sebagai antioksidan dalam melawan radikal bebas yang terbentuk dari metabolisme tubuh dan faktor luar sehari-hari ini mulai berkembang semakin populer oleh publikasi dari seorang ahli peraih Nobel, Linus Pauling, di awal tahun 70an.
Dalam penemuan risetnya, Pauling menganjurkan untuk mengkonsumsi vitamin C 1000 mg/hari dalam fungsi-nya dalam mencegah flu, yang padanannya, meski tak sepenuhnya tepat, disebutnya sebagai common cold. Para ahli kemudian menggolongkan dosis ini sebagai dosis tinggi karena dibandingkan dengan segelas jus jeruk peras yang menghasilkan 60 mg vitamin C. Ia juga menyebutkan selain persentase 45% kegunaannya dalam mencegah selesma dan flu tersebut, vitamin C dapat mencegah serta memperpanjang hidup penderita-penderita kanker.
Pertimbangan lain yang disebutkan Pauling tentang kebutuhan ini adalah karena tubuh sama sekali tidak menghasilkan vitamin C sendiri dan tidak juga menyimpannya, karena itu konsumsinya sangat dibutuhkan dalam diet sehari-hari. Toksisitasnya juga tergolong ringan karena sifat-sifat tadi, dan yang sering dipublikasikan adalah gangguan pencernaan dan diare pada penggunaan lebih tinggi dari 1000 mg tersebut. Ada sebagian penelitian yang bergerak lebih jauh membahas bahaya lanjut kelebihan vitamin C, dan memang, hingga sekarang masih menjadi pertentangan bagi sebagian ahli yang lain.
Begitupun, anjuran untuk mengkonsumsi 1000 mg/hari vitamin C ini kemudian berkembang menjadi tudingan tentang sebuah quackery, yakni promosi dari suatu sistem produk yang dianggap berlebihan. Setelah publisitas tersebut, hingga sekarang, banyak ahli yang meneliti fungsi ini dan hasilnya memang beragam, namun tentu ada penjelasan tersendiri dari masing-masing riset tersebut.
Konsumen, memang pada kenyataannya seringkali terombangambing di tengah pertentangan pembuktian dari riset-riset ilmiah ini, dan karena itu perlu memahami betul seluk-beluk yang ada dibaliknya dengan pertimbangan matang.
Mitos Atau Kenyataan?Terlepas dari riset-riset yang mendukung fungsi vitamin C dosis tinggi dalam kaitannya meningkatkan daya tahan tubuh ini, sejumlah riset lain yang dilakukan ahli lain menyebutkan bahwa tidak ada keuntungan konsisten dari vitamin C pada penderita kanker, sementara riset lain yang menyorot fungsinya dalam pencegahan flu pernah menyebutkan bahwa efek perbaikan pada penderita-penderita flu dalam penelitian Pauling tersebut semata-mata hanya disebabkan oleh efek antihistamin yang dimiliki vitamin C, yang mereka sebut sebagai suatu perbaikan semu, apalagi, kabar yang banyak beredar kemudian, di luar benar atau tidaknya, bahwa salahsatu pendana terbesar riset Pauling adalah sebuah perusahaan farmasi produsen mayoritas vitamin C yang beredar di masa itu.
Sebuah publikasi lain dari kumpulan 30 studi yang melibatkan lebih dari 11.000 peserta penelitian di Australia dan Finlandia menemukan bahwa vitamin C dosis tinggi tersebut tak terbukti secara signifikan bisa mencegah flu, namun cukup bermanfaat bagi penderita yang berada dalam kelompok gizi kurang dan adanya stress fisik akibat aktifitas yang lebih dari orang biasa.
Di luar banyaknya pro dan kontra termasuk tudingan-tudingan terhadap publisitas Pauling sebagai pionir riset tentang kegunaan vitamin C ini, vitamin tetaplah sebuah kebutuhan zat gizi yang harus dipenuhi, dan sebuah riset tetap juga merupakan sebuah studi yang memiliki kekurangan dan kelebihan dari tiap-tiap hasilnya. Toh, ada banyak penjelasan yang paling tidak bisa menjadi dasar untuk pengetahuan orang-orang yang menerima dan menyikapi publikasi tersebut.
Teori-teori tentang kemungkinan hasil positif dan negative riset-riset ini juga cukup banyak, diantaranya teori yang menyebutkan kesamaan struktur vitamin C dengan gula sehingga seringkali berlawanan dalam reseptor sel untuk
penyerapannya di dalam tubuh, dimana semakin tinggi gula yang dikonsumsi semakin rendah pula penyerapan vitamin C ke dalam sel. Proses produksi vitamin C dalam bentuk suplemen pun tak semuanya sama persis, dan masih banyak lagi teori yang bisa menjelaskan bias-bias dari tiap riset yang dilakukan.
Apapun alasannya, vitamin C memang memiliki fungsi tersendiri dalam pertumbuhan/perbaikan sel serta jaringan, dan juga fungsi antioksidannya yang sudah dianggap cukup signifikan. Yang menjadi masalah hanyalah tinggi rendah dosis, serta penyesuaian kebutuhannya, dimana dosis 1000 mg/hari tak selalu harus dijadikan patokan resmi, dan sumber dari bahan-bahan alami tentu akan lebih baik daripada sebuah produk suplemen.
Setidaknya jaga kesehatan dengan tambahan vitamin sesuai dengan anjuran dokter tentunya.
Sumber: berbagai sumber
media2bfree.blogspot.com


2 komentar:
artikel ini bener2 always remid me buat keep go healh,^
SEHAT ITU... PENTING DAN SANGAT MAHAL T,T
Posting Komentar